DUKUN VILLAGE™

25 Desember yang meriah

Sabtu,Desember 29, 2007 · 1 Komentar

Hasil keliling dan melihat meriahnya pembahasan tentang perayaan 25 Desember di Blogosphere entek ngamek kurang nyolong lah poko’e, sebenarnya pingin juga kasih komentar tapi berhubung diuntal ama askismet yo wes komentare nang kene ae….

Dikhawatirkan akan mengaburkan, dan alasan untuk menghindari pengaburan aqidah (yang ujung-ujungnya meskipun jauh dan berliku: pembenaran semua agama) sehingga saya memilih tidak usah mengucapkan selamat pada kaum Nasrani saat mereka merayakannya di 25 Desember yang bukan berarti saya tidak memuliakan Nabi Isa A.S karena saya sudah dididik sejak kecil dan sampai jaman copy+paste saat ini saya tetap bisa menerima dengan rasional bahwa Nabi Isa bukanlah Jesus dan saya juga tidak bisa mengucapkan selamat sekaligus menjelaskan bahwa saya hanya basa-basi dan salam sejahtera yang saya ucapkan bukan untuk Jesus tapi untuk nabi kami yang kalian tempatkan dengan salah yang kalian anggap telah menebus dosa-dosa kalian.

Saya tidak menyetujui orang bersurban meneriakkan takbir sambil merusak tempat ibadah (perang salib yang motif agama, politik dan ekonominya lebih besar saja masih meninggalkan kisah betapa tolerannya umat islam dengan tidak merusak tumbuhan, membunuh hewan ternak apalagi merusak tempat ibadah) tapi bukannya kita lantas pamer toleransi dengan potensi bisa mengaburkan akidah (karena tanpa mendekati gray area saja saya tidak menjamin akidah saya paling bersih tanpa noda, apalagi dengan sombong berkata bahwa sekedar mengucapkan selamat saja tidak akan mengakibatkan akidah saya ternoda) atau minimal membuat mereka yang menerima ucapan selamat merasa sudah benar dengan apa yang mereka rayakan.

Tidak toleran? mungkin benar kalau wujud toleransinya dengan menuruti kegelisahan dan mencari pembenaran yang dianggap bisa mengikuti jargon-jargon toleransi, kemanusiaan dari sana (terserah pilih sana yang mana). Saya mendapat pendidikan dari guru-guru saya di madrasah bahwa kita tidak boleh membenci sesama manusia sejelek, sejahat apapun mereka yang harus kita benci adalah sifat-sifat jelek yang ada pada mereka (mereka tidak mau menerima bahwa islam agama yang sempurna: salah satu kejelekan yang ada pada manusia?) jangan sampai atas nama kemanusiaan dan toleransi kita sensi dan buru-buru melangkah ke area abu-abu yang menyimpan lubang hitam.

Jadi biarlah saya tidak ikut yang populer dan menggejala di sekitar saya untuk hal-hal seperti ini, tapi mungkin nanti kalau udah ada yang bikin OS Islam dengan firewall yang tidak bisa disusupi worm dan virus yang goyahkan akidah dan jaminan masuk surga bagi penggunanya segala subhat dan salah kaprah apapun yang saya lakukan bisa dicarikan pijakannya dari kitab-kitab berhuruf hijaiyyah yang penting penafsirannya bung!.

Note: bukan bagian posting di atas, cuman nostalgia
waktu kecil dulu saya dan teman-teman sebaya penasaran merasakan sholat dengan duduk begitu selesai mendengar di perbolehkannya sholat dengan posisi apapun, tanpa mau mendengar kelanjutannya sebab udah langsung berimajinasi enaknya sholat sambil tidur sambil makan atau kalo subuh masih dingin sambil kemulan melungker. “poko’e kan oleh ono dalile kok, wong ambek ketip ae oleh”

Kategori: Berita Hot · Jalan yang satu · opini

1 response so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar